Jumat, 14 September 2012
Asal Usul Uang dan Celengan
Asal Usul Uang dan Celengan
Artikel Terkait :

Kebiasaan menabung ternyata sudah ada sejak zaman dulu. Bahkan, di Tanah Air, celengan sudah dikenal sejak zaman Majapahit.

Dari barter ke alat tukar

         Sebelum ditemukan uang sebagai alat tukar, perdagangan dilakukan dengan sistem barter (saling bertukar barang). Misalnya, kita punya garam namun tidak punya ikan, maka garam itu sebagian kita tukar dengan ikan pada orang yang memiliki ikan lebih namun tidak punya garam.

         Seiring perkembangan zaman, lalu ditemukan  alat pembayaran, yaitu uang. Dulu, uang dibuat dari logam karena selain nilainya tinggi dan disukai  banyak orang, logam mudah dibawa, tahan lama, dan tak mudah rusak. Jenis logam yang dibuat uang adalah emas dan perak.

Asal Usul

         Sekitar abad ke-15, logam sangat mahal sehingga jarang sekali orang membuat alat-alat rumah tangga dari logam. Berbagai peralatan, seperti piring, pot, dan kendi  dibuat dari tanah liat, dan disebut "pygg". Pada zaman itu, para ibu rumah tangga yang memiliki uang lebih atau sisa, biasa menyimpannya dalam kendi-kendi yang terbuat dari tanah liat itu. Mereka pun menamai kendi-kendi itu dengan sebutan pygg bank atau pyggy bank.

         Berabad-abad kemudian, orang-orang lupa bahwa yang namanya pygg itu adalah barang-barang yang terbuat dari tanah liat. Pada abad ke-19, ketika para pembuat tembikar Inggris menerima pesanan untuk membuat pyggy bank, mereka membuatnya dengan bentuk binatang babi. Tentu saja bentuk yang lucu ini menarik minat orang, terutama di kalangan anak-anak. Nah, sejak itu, kebanyakan celengan berbentuk babi dan disebut piggy bank.

Mengapa di Indonesia disebut celengan?

         Kebiasaan menabung di Indonesia sudah ada sejak berabad-abad lalu. Salah satu buktinya, celengan yang ditemukan di situs peninggalan Kerajaan Majapahit abad ke-15, yang berbentuk babi. Mungkin dari situlah asal kata celengan, karena berbentuk babi, yang dalam bahasa jawa disebut "celeng".

         Sebenarnya, celengan pada zaman Majapahit tak hanya berbentuk babi, tapi ada juga yang berbentuk kura-kura, gajah, dan kuda. Celengan merupakan hasil kerajinan tembikar tanah liat. Peninggalan purbakala itu membuktikan bahwa sejak dulu masyarakat di Tanah Air sudah mengenal budaya menabung.

Bank zaman dulu

          Pada zaman Babylonia (tahun 2000 SM), sudah dikenal lembaga bank yang diberi nama Temples of Babylon. Kegiatan utamanya adalah peminjaman emas dan perak kepada kalangan pedagang yang membutuhkan, dengan dikenakan biaya.

         Pada tahun 500 SM, kegiatan perbankan semakin berkembang lagi.  Tak heran jika pada zaman Romawi kegiatan perbankan telah meliputi tukar-menukar uang, menerima deposito atau simpanan, memberi kredit atau pinjaman, dan bahkan transfer dana. Namun, semua kegiatan itu tentu dilakukan dengan cara yang masih amat sederhana.

         Era perbankan modern dimulai sekitar abad ke 15 - 16. Pada abad itu, di Inggris, Belanda, dan Belgia muncul Goldsmith's Note atau Surat Tukang Emas. Para tukang emas pada masa itu bersedia menerima uang logam (emas dan perak) untuk disimpan, dan tanda bukti penyimpanan dari tukang emas itu berlaku sebagai surat deposito atau simpanan, yang disebut Goldsmith's Note.

         Dalam perkembangannya, surat dari tukang emas itu kemudian digunakan sebagai alat pembayaran. Bahkan, tanpa jaminan simpanan emas atau perak pun, surat semacam Goldsmith's Note diterima sebagai alat pembayaran yang sah. Namun, tentunya dengan jaminan dari raja atau pihak lainnya yang dipercaya pada saat itu. Nah, itulah cikal bakal uang kertas yang diedarkan oleh bank pada masa itu.

Teks: Veronica/GIRLS

Copyright © Girls, All Rights Reserved 2012.
logoKG